SEJARAH TIMNAS INDONESIA DI PIALA DUNIA PRANCIS TAHUN 1938 - rizkimegasaputra.com
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SEJARAH TIMNAS INDONESIA DI PIALA DUNIA PRANCIS TAHUN 1938


Alkisah, Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) sebuah organisasi sepakbola orang-orang Belanda di Hindia Belanda menaruh hormat kepada Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) lantaran Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB) yang memakai bintang-bintang dari NIVB kalah dengan skor 2-1 lawan Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ) salah satu klub anggota PSSI dalam sebuah ajang kompetisi PSSI ke III pada 1933 di Surabaya. Maka terbukalah mata tuan-tuan bule ini melihat kemampuan olah kulit bundar bumiputra. NIVU yang semula memandang sebelah mata PSSI akhirnya mengajak bekerjasama.

Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan Gentlemen’s Agreement pada 15 Januari 1937. Pascapersetujuan perjanjian ini, berarti secara de facto dan de jure Belanda mengakui PSSI (Palupi, 2004: 75-76). Perjanjian itu juga menegaskan bahwa PSSI dan NIVU menjadi pucuk organisasi sepakbola di Hindia Belanda. Di tahun 1938, Indonesia mendapat undangan dari FIFA untuk berlaga di Piala Dunia Perancis. Salah satu butir di dalam perjanjian itu juga berisi soal pertandingan sepakbola sejagat ini. Butirnya, yakni dilakukan pertandingan antara tim bentukan NIVU melawan tim bentukan PSSI sebelum diberangkatkan ke Piala Dunia (semacam seleksi tim). Namun, apa lacur, NIVU melanggar perjanjian dan memberangkatkan tim bentukannya. Mereka menelikung secara sepihak dan tak tepati janji. Konon, NIVU melakukan hal tersebut karena tak mau kehilangan muka, sebab PSSI pada masa itu memiliki tim yang kuat. Dalam pertandingan internasional, PSSI membuktikannya. Pada 7 Agustus 1937 tim yang beranggotakan, di antaranya Maladi, Djawad, Moestaram, Sardjan, berhasil menahan imbang 2-2 tim Nan Hwa dari Cina di Gelanggang Union, Semarang. Padahal Nan Hwa pernah menyikat kesebelasan Belanda dengan skor 4-0. Dari sini kedigdayaan tim PSSI mulai kesohor.


Atas tindakan culas tuan-tuan kulit putih ini, Soeratin ketua PSSI yang juga aktivis gerakan nasionalisme Indonesia sangat geram. Ia menolak memakai nama NIVU. Alasannnya, kalau NIVU diberikan hak, maka komposisi materi pemain akan dipenuhi orang-orang Belanda. Sialnya, FIFA mengakui NIVU sebagai perwakilan dari Hindia Belanda. Akhirnya PSSI membatalkan secara sepihak perjanjian Gentlemen’s Agreement saat Kongres di Solo pada 1938.

Maka sejarah mencatat mereka yang berangkat ke Piala Dunia Perancis 1938 mayoritas orang Belanda. Mereka yang terpilih untuk berlaga di Perancis, yaitu Bing Mo Heng (kiper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermadji, Anwar Sutan, dan Achmad Nawir (kapten). Mereka diasuh oleh pelatih sekaligus ketua NIVU, Johannes Mastenbroek. “Mo Heng, Nawir, Soedarmadji adalah pemain-pemain bumiputra yang berhasil memperkuat kesebelasan Hindia Belanda, tetapi bertanding di bawah bendera kerajaan Nederland dan bukan Merah-Putih,” tulis Srie Agustina Palupi dalam bukunya Politik dan Sepak Bola.


Pada 5 Juni 1938, sejarah mencatat pembantaian tim Hungaria terhadap Hindia Belanda. Mereka bermain di Stadiun Velodrome Municipal, Reims, Perancis. Sekitar 10.000 kepala menyaksikan pertandingan ini. Sebelum bertanding, para pemain mendengarkan lagu kebangsaan masing-masing. Kesebelasan Hindia Belanda mendengarkan lagu kebangsaan Belanda “Het Wilhelmus”.

Berarti di Piala Dunia ini, lagu “Het Wilhelmus” dikumandangkan dua kali, yaitu saat Hindia Belanda dan Belanda akan bertanding. Secara skill mereka bisa mengimbangi, tapi tidak dengan fisiknya. Karena perbedaan tinggi tubuh yang begitu mencolok, walikota Reims menyebutnya,”saya seperti melihat 22 atlet Hungaria dikerubungi oleh 11 kurcaci.” Begitulah kata walikota Remis dalam buku 100 + Fakta Unik Piala Dunia karya Asep Ginanjar dan Agung Harsya. Dan, akhirnya tersiarlah kabar yang pahit. Kesebelasan Hindia Belanda digunduli 6-0 tanpa balas. Cuma sekali bertanding. Sehabis itu mereka mesti angkat koper, karena saat itu sistem Piala Dunia masih menggunakan sistem knock-out. Hal ini disebabkan karena negara pesertanya sedikit. Ketika itu, Piala Dunia cuma diikuti 15 tim, yaitu Italia, Jerman, Swedia, Norwegia, Brasil, Kuba, Swiss, Polandia, Hindia Belanda, Rumania, Hongaria, Cekoslowakia, Belanda dan Belgia. Meskipun kalah telak, surat kabar dalam negeri, Sin Po, memberikan apresiasinya pada terbitan mereka, edisi 7 Juni 1938 dengan menampilkan headline: “Indonesia-Hongarije 0-6, Kalah Sasoedahnja Kasi Perlawanan Gagah”.

Sekarang coba kita bayangkan, jika saja tim yang dikirim adalah tim pilihan PSSI apa yang bakal terjadi di Piala Dunia 1938? Ah, ternyata sejarah tak bisa diulang dan kita harus menerima terus menerus ‘mimpi manis’ Piala Dunia 1938 sebagai ‘Indonesia di Piala Dunia 1938’ meskipun sejatinya kita pernah ditelikung Belanda dan tak pernah ada di sana! 
Sumber:   http://forum.viva.co.id/bola-dunia/826235-sejarah-timnas-indonesia-di-piala-dunia-prancis-tahun-1938-a.html

Posting Komentar untuk "SEJARAH TIMNAS INDONESIA DI PIALA DUNIA PRANCIS TAHUN 1938"